Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 14 Oktober 2008

Menghitung Huruf Al-Qur'an

Gairah intelektualitas para Ulama masa lalu memang membikin kita mengeleng-gelengkan kepala. Banyak kita jumpai karya-karya spektakuler yang jarang kita dapatkan pada zaman ketika gairah intelektualitas umat Islam menurun. Terkadang sesuatu yang kita tidak anggap penting, namun ternyata tidak luput dari ide-ide kreatif yang mereka ciptakan.
Dan ternyata hal-hal yang dianggap tidak penting itu memiliki tempat khusus di dalam hati para generasi berikutnya. Bahkan, juga kadang menjadi data penting yang cukup jarang diketahui. Karena tidak jarang, walaupun masa ini telah ditopang dengan kecanggihan teknologi, ternyata masih harus pasrah hanya dengan gelengan kepala, mengingat situasi teknologi zaman dulu masih tidak secanggih saat ini.
Salah satunya hasil penelitian seorang sekaliber Imam an-Nasafi yang meneliti jumlah huruf dalam kitab suci al-Qur?an!.
Kalau yang dihitung adalah jumlah surat atau kalimat, masih mending. Tapi kalau menghitung jumlah huruf, cukup ruwet juga, 'kan? Dan ternyata itu yang dilakukan oleh an-Nasafi.
Hasil penelitiannya ini ditulis dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli?u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ?Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah karangannya sendiri. Berikut ini uraiannya dan huruf-huruf diurut sesuai dengan banyaknya: Alif : 48740 huruf, Lam : 33922 huruf, Mim : 28922 huruf, Ha? : 26925 huruf, Ya? : 25717 huruf, Wawu : 25506 huruf, Nun : 17000 huruf, Lam alif : 14707 huruf, Ba? : 11420 huruf, Tsa? : 10480 huruf, Fa? : 9813 huruf, ?Ain : 9470 huruf, Qaf : 8099 huruf, Kaf : 8022 huruf, Dal : 5998 huruf, Sin : 5799 huruf, Dzal : 4934 huruf, Ha : 4138 huruf, Jim : 3322 huruf, Shad : 2780 huruf, Ra? : 2206 huruf, Syin : 2115 huruf, Dhadl : 1822 huruf, Zai : 1680 huruf, Kha? : 1503 huruf, Ta? : 1404 huruf, Ghain : 1229 huruf, Tha? : 1204 huruf dan terakhir Dza? : 842 huruf. Jumlah total semua huruf dalam al-Qur?an sebanyak satu juta dua puluh tujuh ribu. Jumlah total ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nusakh.
oleh: Ibnu Kholil

3 Amalan yang Selamatkan Pemabuk

Alkisah, seorang laki-laki bejat meninggal di satu sudut kota Bashrah. Istrinya bingung tidak ada seorang pun yang mau membantu membawakan jenazah suaminya. Para tetangganya tak tahu-menahu atas urusan itu. Karena perbuatan buruk suaminya yang begitu menumpuk.
Ia pun menyewa orang untuk memikul jasad mati tersebut dan membawanya ke mushalla, tapi sungguh malang nasibnya. Tak ada yang mau melakukan shalat jenazah untuknya. Mayat itu lalu digiring ke gurun pasir yang rupa-rupanya mau dikebumikan saja. Sang istri hanya bisa berpangku tangan meratapi nasib.
Sesampainya di gurun pasir, matanya tertambat pada sosok lelaki yang bila dilihat dari gerak-geriknya, sedang menunggu sesuatu. Kemujuran berpihak padanya. Lelaki gurun tersebut memang sedang mengharapkan kedatangan mereka berdua. Lelaki yang ternyata seorang pertapa (zuhud) itu mau menyolati jasad pemabuk yang berada di hadapannya.
Kabar ini begitu menggemparkan penduduk desa. Dengan berbondong-bondong mereka lantas mendatangi tempat itu untuk turut melakukakan shalat jenazah. Namun mereka masih bertanya-tanya. Mengapa seorang zuhud rela turun gunung hanya demi seorang yang terkenal sebagi pecandu khamer?
Untuk menenangkan rasa penasaran penduduk, pertapa itu berkata: “Suatu malam aku bermimpi diperintahkan turun gunung ke tempat di mana jenazah ini dan istrinya berada. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya”. Mendengar penuturan pertapa itu para penduduk tidak paham sekaligus bingung dan semakin bertanya-tanya.
Dia pun lantas memanggil perempuan yang ditinggal suaminya itu. Dan menanyakan amal apa yang membuat suaminya bernasib mujur. Spontan dia menjawab: “Seperti yang kalian ketahui suamiku tidak lain adalah seorang pemabuk berat dan senang nongkrong di rumah bordil”. Dia terus mendesak: coba ingat-ingat! Kiranya amal apa yang pernah dilakukan suamimu”. Ia mencoba memutar memori.
Dan tak lama, “Ya, aku ingat ada tiga amal baik yang sempat dilakukannya semasa hidup. Pertama, setiap subuh saat bangun dari mabuk, dia berganti pakaian lalu berwudlu dan shalat berjamaah. Kemudian dia berangkat ke rumah bordil untuk melakukan perbuatan bejatnya. Kedua, di rumah kami pasti ada satu atau dua anak yatim. Suamiku amat menyayangi mereka sampai melebihi rasa kasih sayangnya terhadap anaknya sendiri. Bahkan dia begitu merasa kehilangan terhadap anak-anak yatim itu. Ketiga, di tengah gulita malam tatkala dia sadar dari mabuk, dia menangis menyesali kelakuan buruknya. Seraya meratap: “wahai Tuhan! Di sudut Jahanam manakah Engkau jebloskan diri pendosa ini?” Setelah menyimak kisah perempuan itu semua orang mengangguk-angguk paham. Ternyata dibalik tirai hitam perbuatan sipemabuk ada tiga “mutiara amal” yang tersimpan.
Oleh: Usman Hasib